Selasa, 11 November 2014

Perusahaan Pesawat Ramai-ramai Bidik Pasar Indonesia

Binjai Tech - Indonesia kerapkali menjadi pasar empuk untuk pemasaran aneka produk dari gadget hingga kendaraan mewah. Bahkan, model transportasi super-mewah seperti pesawat dan helikopter mulai ramai menyasar pasar Tanah Air.

Jumlah penduduk yang hampir 250 juta jiwa dan bentuk geografis yang berkepulauan dianggap perusahaan pembuat pesawat dan helikopter sebagai alasan Indonesia bisa jadi pasar potensial. Oleh sebab itu, mereka pun mulai merapat ke Indonesia - salah satunya adalah perusahaan Airbus Helicopters.

"Indonesia merupakan salah satu negara potensial untuk industri transportasi udara. Bentuknya yang kepulauan dan jumlah penduduk yang besar menjadikannya sebagai prioritas kami dalam mengembangkan pasar pesawat maupun helikopter," ujar Fabrice Rochereau, VP Sales & Costimer Relations Asia-Pasific Airbus Helicopters.

Demi menggaet pasar kelas atas ataupun berbagai lembaga di Indonesia yang memiliki mobilitas tinggi dan memerlukan efisiensi waktu, Airbus mengklaim membawa berbagai model produknya ke pasar Indonesia. Kebutuhan sipil maupun militer diakui Fabrice bisa ditangani produk buatannya.

"Kita sediakan berbagai macam helikopter yang bisa difungsikan untuk membantu berbagai kebutuhan seperti angkutan pribadi, kesehatan maupun bermacam-macam aktivitas militer seperti pengiriman suplai atau patroli di lokasi yang sulit dijangkau," tambah Fabrice.

Fabrice menyebutkan harga helikopter yang disediakannya berkisar antara US$ 2-30 juta setara dengan 2-3 mobil mewah atau mobil super yang biasa dipakai para konglomerat.

Untuk perawatan, pilot dan garasi, Airbus menyebutkan bisa membantu kebutuhan para pelanggan di Indonesia yang punya potensi besar di industri dirgantara.

Pesawat Antariksa Eropa Data 70 Ribu Planet Alien

Binjai Tech - Sebuah pesawat ruang angkasa Eropa yang diluncurkan pungkasan tahun lalu akhirnya menemukan 70 ribu exoplanet. Temuan yang diterbitkan dalamThe Astrophysical Journal ini diklaim dapat membantu peneliti untuk memahami jumlah dan karakteristik dunia asing di seluruh galaksi.

Gaia, yang diluncurkan oleh Badan Antariksa Eropa pada Desember 2013 silam, diharuskan mencari sekitar 21 ribu planet asing dalam misi lima tahun, dan 70 ribu planet dalam 10 tahun. “Planet-planet tersebut memiliki ciri khas tersendiri,” kata Michael Perryman dari Princeton University, seperti dikutip dari Space, Senin, 10 November 2014.

Perryman mengatakan Gaia tak hanya menemukan daftar semua planet yang ada, tapi juga planet yang sejauh ini belum dieksplorasi. Dunia yang memiliki bintang seperti matahari pertama kali ditemukan pada 1995. Sejak saat itu, ujar dia, para astronom telah menemukan hampir 2.000 exoplanet di ruang angkasa.

Tentunya, kata Perryman, masih banyak dunia dari para “alien” di luar sana yang belum diidentifikasi. Para astronom beranggapan setiap bintang di Galaksi Bima Sakti memuat satu planet. “Jika dikalkulasi, itu berarti ada 100 miliar dunia alien di luar sana.”

Gaia, pesawat senilai US$ 1 miliar atau setara Rp 1,2 triliun, beroperasi di wilayah seluas 1,5 juta kilometer dari bumi. Wilayah itu disebut Earth-Sun Lagrange Point 2. Tujuan utama pesawat ulang alik ini ialah memantau 1 miliar bintang di Bima Sakti tersebut untuk membantu astronom membuat peta rinci tiga dimensi. 

“Peta tersebut dapat mengungkap struktur galaksi dan evolusi,” ujar Perryman. Tak hanya itu, Gaia juga bertugas mencatat planet asing yang tak dapat diidentifikasi oleh teropong antariksa Kepler milik NASA. Dengan begitu, Gaia diharapkan dapat mengungkap dunia asing lebih banyak. Ke depannya, para peneliti akan menambah 20 ribu planet asing terbaru di titik orbit Gaia. 

CEO Tesla Ingin Buat Pesawat Listrik


Binjai Tech - Industri pesawat terbang memiliki target yang tidak mudah. Selain peningkatan lalu lintas udara, mereka juga memiliki target pengurangan emisi gas.

Pada tahun 2050 nanti, industri pesawat terbang diperkirakan akan meningkatkan lalu lintas udara sebanyak tujuh kali lipat. Mereka juga ditargetkan harus mengurangi emisi gas rumah kaca sebanyak 4 kali lipat.

Dilansir melalui Space.com, Senin 11 November 2014, langkah paling penting untuk membuat industri ini lebih 'hijau' adalah membuat pesawat komersil yang memiliki daya listrik. Daya seperti itu bebas dari emisi CO2 dan NOx. Sayangnya, butuh banyak waktu dan upaya untuk bisa menemukan baterai listrik yang sesuai dan mumpuni.

CEO Tesla, Elon Musk mengatakan, industri penerbangan akan sangat menarik jika sudah menemukan baterai dengan kemampuan produksi 400 watt-hours per kilogram. Ini dengan rasio kekuatan sel untuk massa keseluruhan antara 0,7 sampai 0,8.

Pada 1994 lalu, baterai lithium-ion baru mampu mencapai kepadatan energi sebesar 113Wh/kg. Lalu meningkat menjadi 202Wh/kg pada 2004. Saat ini, kekuatannya hampit mendapat 300Wh/kg. Diperkirakan dalam beberapa dekade ke depan, kekuatannya mencapai 400Wh/kg.

Untuk menghadirkan biaya murah sekaligus ramah lingkungan, industri juga bisa menggunakan solar panel. Ini merupakan solusi energi termurah yang diharapkan. Bahkan biayanya lebih murah 70 persen dibanding biaya baterai lithium-ion di 2025.

Penggunaan biofuel juga menjadi perhatian. Sayangnya, daur hidup sebuah pesawat diperkirakan hanya sekitar 21 sampai 33 tahun. Oleh karena itu, dibutuhkan waktu lama untuk bisa melakukan transisi dari penggunaan energi fosil ke listrik. Biasanya membutuhkan dua sampai tiga dekade. Di sisi lain, energi biofuel mampu mengurangi emisi karbon antara 36 sampai 85 persen.

Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) telah membuat konsep pesawat penerbangan komersil yang diperkirakan akan sukses di masa depan. Berikut tampang pesawat masa depan NASA.

Senin, 10 November 2014

Tips Membawa Bayi dengan Pesawat

DALAM waktu dekat mungkin Anda akan bepergian yang mengharuskan naik pesawat terbang dengan membawa bayi Anda ikut serta, tak perlu cemas. 

Berikut ini panduan untuk bepergian bersama bayi kecil Anda dengan pesawat terbang. Mulai dari sebelum berangkat, saat di bandara, hingga selama di pesawat, agar acara bepergian bersama si kecil lancar dan menyenangkan. 

1. Sebelum Berangkat
Saat Memesan Tiket  
- Pilih waktu terbang yang paling nyaman untuk bayi, misalnya pada malam hari (untuk penerbangan panjang) atau jam tidur siang untuk penerbangan jarak pendek, karena pada saat itu anak akan bisa tidur tenang di pesawat.

- Informasikan ke maskapai penerbangan bahwa Anda bepergian dengan bayi (infant). Dengan begitu, awak pesawat sudah terinformasi untuk siap memasang sabuk pengaman tambahan (untuk anak yang dipangku), atau membantu memasangkan car seat.

- Pesan satu tempat duduk tambahan khusus untuk bayi, terutama bila  bayi Anda sudah cukup besar, karena tidak dianjurkan memangku bayi terus-terusan di pesawat. Turbulensi atau perubahan tekanan udara secara drastis bisa membuat si kecil terlepas dari pegangan Anda. Belum lagi bila terjadi kecelakaan, ia bisa saja terjepit di antara tubuh Anda.

- Pesan seat di bagian depan kabin agar Anda mendapatkan lebih banyak ruang untuk kaki. Kursi di bagian depan kabin juga artinya semakin sedikit suara bising yang terdengar dari mesin pesawat. Dan perlu diingat, Anda dan bayi tidak diizinkan duduk di deretan emergency exit.

- Pilih tempat duduk di sisi lorong (aisle) untuk Anda, agar Anda bisa gampang keluar-masuk saat mengurus si kecil-bila harus ke toilet atau saat menenangkannya dengan berjalan-jalan di lorong kabin.

- Cermati dan patuhi peraturan tentang membawa stroller, karena tiap maskapai penerbangan menetapkan aturan yang berbeda. Ada yang membolehkan dibawa ke kabin dan dititipkan ke awak pesawat, namun ada pula yang sama sekali melarang membawa stroller ke kabin-harus masuk bagasi.    

Umur Berapa Boleh Terbang? 
-Bila umur anak masih di bawah 2 minggu, sebaiknya hindari bepergian dengan pesawat. Tubuh bayi sekecil ini masih belum mampu menyesuaikan diri secara sempurna dengan keadaan lingkungan sekitar, karena ia baru saja keluar dari “zona nyaman” lingkungan rahim bunda. Pada usia itu bayi juga lebih rentan terhadap bakteri dan kuman, terutama di ruangan yang tertutup seperti kabin pesawat.

- Umur 3 bulan adalah usia yang cukup aman untuk bepergian naik pesawat terbang, karena di umur ini terjadi fisiologi pertumbuhan dan perkembangan bayi maksimal, sehingga kondisinya optimal jika menghadapi stres,seperti hawa dingin dan berbagai perubahan lain. Semakin tua usia bayi, maka ia akan makin kuat terhadap perubahan lingkungan lainnya.

Periksa Kesehatan Bayi Anda:
-Periksa seluruh kondisi tubuh bayi Anda sekitar 3-7 hari sebelum berangkat. Sampaikan segala keluhan kesehatan yang diderita bayi, agar dokter bisa memberikan penanganan terbaik. Misalnya bila bayi Anda baru saja mengalami pilek atau radang telinga, bisa jadi dokter akan memberikan obat tetes pereda nyeri.

-Minta surat keterangan sehat dan surat rekomendasi dokter yang menyatakan bahwa anak Anda layak untuk bepergian dengan pesawat udara. Walaupun tak selalu diwajibkan oleh maskapai, namun surat ini penting untuk berjaga-jaga. 
 
-Jaga kesehatan dan kebugaran menjelang berangkat  Beri vitamin dan makanan yang bergizi cukup dan seimbang sebagai pencegahan. Anak kecil rentan tertular airborne infection, terutama penyakit yang mudah menular seperti flu dan batuk-maka usahakan agar si kecil tidak bepergian di kala kondisinya sedang tidak prima. 

Bila keadaan bayi Anda parah, lebih baik tunda keberangkatan. Bila Anda tetap bersikeras terbang, biasanya pihak maskapai akan meminta surat persetujuan dari Anda, bahwa jika terjadi hal-hal yang tak diinginkan adalah di luar tanggung jawab pihak maskapai penerbangan

2. Saat Di Bandara
- Tiba Lebih Awal, agar Anda punya waktu lengang untuk check in, terutama jika bawaan yang tidak sedikit, melewati imigrasi (bila keluar negeri) dansecurity check.
- Duduk di area 'No Smoking' saat menunggu waktu naik ke pesawat.
- Ajak bayi bermain dan beraktivitas agar ia merasa lelah, sehingga nanti di dalam pesawat ia tak butuh waktu lama untuk tertidur.

Ringan, Ringkas, Rapi 
- Bawa tas bentuk ransel untuk di kabin, terutama bila Anda bepergian hanya berdua bayi, tanpa pasangan atau pengasuh, sehingga kedua tangan Anda bisa bebas bergerak mengurus bayi. Batasi isi dan berat tas, karena Anda masih harus menggendong bayi.  

- Masukkan persediaan baju dan konsumsi untuk berjaga-jaga andaikan terjadi penundaan dan keterlambatan, yaitu baju ganti, popok sekali pakai, tisu basah, selimut, susu dan makanan.  

3. Selama Di Pesawat
- Susui atau berikan empeng untuk dihisap(sucking) saat pesawat tinggal landas dan mendarat, di saat terjadi perubahan tekanan udara yang bisa membuat telinga sakit. Berikan hingga pesawat mencapai ketinggian stabil. Aktivitas menelan ini berguna untuk menyeimbangkan tekanan dalam telinga.

- Bawa bekal ASI perah dalam botol.Peraturan penerbangan memang membatasi membawa cairan sebanyak maksimal 100 ml ke dalam pesawat, namun bagusnya peraturan tersebut mengecualikan susu dan makanan bayi, obat-obatan dan makanan diet khusus. Bila bayi Anda mengonsumsi susu formula, bawa susu formula bubuk dalam wadah tertutup. Air hangat dapat diminta ke awak kabin.

- Minta izin kepada awak kabin agar diperbolehkan duduk sementara di deretan yang sepi penumpang untuk menyusui bila Anda merasa tidak nyaman memberi ASI di antara banyak penumpang

- Hindari mengarahkan semburan hawa AC langsung pada bayi.  Pakaikan jaket atau sweater, kaos kaki, sarung tangan dan topi pada bayi, karena suhu kabin cenderung dingin. Minta selimut atau bantal tambahan bila Anda memerlukannya.  

- Pastikan bayi Anda cukup minum agar ia tidak dehidrasi karena udara di dalam kabin cenderung kering. Ini juga akan membuat mereka kenyang dan tidak rewel saat penerbangan.

- Ajak ia melakukan aktivitas bersama, misalnya bermain, dibacakan buku atau didongengi supaya ia tidak bosan dan akhirnya rewel. Atau gendong dia untuk berjalan-jalan di lorong kabin –berguna pula melancarkan peredaran darah Anda.

- Gendong bayi dalam posisi berdiri menghadap belakang, lalu tepuk-tepuk punggungnya, untuk meredakan rewelnya.  

- Tak perlu buru-buru keluar pesawat begitu tiba di tempat tujuan. Biarkan penumpang lain keluar terlebih dahulu, sehingga Anda dan bayi tidak perlu berdesak-desakan.

Sabtu, 08 November 2014

Beda Drone dengan Pesawat Tanpa Awak

Binjai Tech - Penggunaan pesawat tanpa awak di bidang militer semakin populer. Bahkan, pesawat yang biasa disebut drone itu merupakan senjata ampuh untuk meminimalisir korban dari personel militer. 

"Tapi secara istilah antara drone dan pesawat tanpa awak itu sangat jauh berbeda," kata Kepala Perencanaan PT Dirgantara Indonesia, Sonny Saleh Ibrahim, Jumat, 7 November 2014.

Sonny mengatakan, selama ini penggunaan istilah drone untuk pesawat tanpa awak tidak tepat. Menurutnya, pesawat tanpa awak yang kerap dipakai oleh militer Amerika Serikat tidak bisa disebut drone. Sebab, istilah tersebut mengacu pada penggunaan alat latih militer.

Menurut dia, drone digunakan sebagai alat latihan menembak menggunakan peluru kendali atau misil. Latihan itu biasanya dilakukan untuk menguji ketepatan tembak misil terhadap target di udara. Bentuk drone biasa kecil dan daya jelajahnya rendahnya. Hal itu karena memang tujuannya untuk dihancurkan sebagai sasaran tembak.

Adapun pesawat tanpa awak, kata Sonny, secara fisik lebih besar dan memiliki kemampuan tempur. Istilah yang digunakan bukan drone, melainkan Unmanned Aerial Vehicle alias UAV. "Jadi selama ini UAV disebut drone, padahal itu kurang tepat," kata dia.

UAV, disebut Sonny, jauh lebih canggih ketimbang drone. Meski sama-sama dikendalikan dari darat, daya jelajah dan kemampan UAV sangat mumpuni. Pengendalian UAV menggunakan frekuensi gelombang yang terhubung langsung ke satelit militer. Ini yang membuat operasional UAV bisa dilakukan pada jarak ribuan mil.

Salah satu contohnya adalah UAV yang digunakan Amerika Serikat selama operasi militer di Afghanistan. "UAV mereka dikendalikan dari Houston, tapi pesawatnya bisa beroperasi sampai ke Afghanistan," ujar dia.

Jumat, 07 November 2014

Indonesia Tertarik Beli Pesawat Tempur Su-35


Binjai Tech - Opsi pembelian pesawat tersebut telah dibicarakan dalam pertemuan perwakilan Kementerian Pertahanan Indonesia Purnomo Yusgiantoro dengan Kepala Staf dan Komando Angkatan Udara Rusia pada pertengahan Januari lalu.

Yusgiantoro menyatakan bahwa keputusan akhir mengenai pembelian Su-35 masih belum ditetapkan. Komando Angkatan Udara Indonesia juga tengah mempertimbangkan alternatif lain untuk menggantikan pesawat F-5 yang dinilai sudah menua. Selain Su-35, AU RI juga sedang mempelajari pesawat tempur JAS 39 Gripen buatan Swedia, pesawat F-16 Fighting Falcon Block 60, F-15 Silent Eagle dan F/A-18 Super Hornet asal AS, serta pesawat Rafale asal Prancis. Namun, Su-35 merupakan pilihan utama dari daftar kandidat tersebut.

Generasi Kelima

Semua pesawat tempur yang ikut serta dalam tender adalah pesawat paling modern dalam aviasi militer dunia. Jika pesawat tempur Amerika, Prancis, Swedia merupakan perwakilan generasi "4+”, Su-35 bisa disebut sebagai pesawat tempur generasi “5-". Artinya, Su-35 memenuhi kriteria dan spesifikasi pesawat tempur generasi baru secara maksimal, seperti halnya pesawat tempur F-22 Raptor dan F-35. Su-35 tersebut kerap disandingkan sebagai pesaing utama pesawat tempur AS Raptor.

Biro Konstruksi Sukhoi dengan rendah hati mengategorikan pesawat Su-35 ini sebagai generasi “4++”, yakni pesawat yang lebih unggul dari generasi ke empat, namun belum menjadi generasi kelima. Padahal, banyak pesaing dunia yang menyebut Su-35 sebagai pesawat masa depan.

Lebih Unggul

Tak mudah bagi orang awam untuk membedakan pesawat Su-35 dari Su-27, ataupun Su-30MK. Namun sesungguhnya, terdapat perbedaan signifikan antara tiap pesawat tersebut. Skema aerodinamika fuselage (badan pesawat) Su-35 merupakan konfigurasi paling muktahir dibanding para pendahulunya. Su-35 juga memiliki bentuk yang lebih ramping (konfigurasi Kanard) dibanding Su-27, serta tidak memiliki kemudi horizontal bagian hidung pesawat seperti Su-30. Kemudi horizontal yang dibuat pada pesawat Su-30MKI oleh India dapat meningkatkan kemampuan manuver pesawat. Dengan dilengkapi mesin pesawat jet yang memiliki thrust vector control, pesawat Su-30 merupakan pesawat tempur terbaik di dunia.

Manuver udara Cobra Pugachev adalah gerakan pada saat pesawat menambah ketinggian dan pada momen tertentu pesawat tersebut berhenti dan menggantung di udara dengan bertumpu pada ekor (seperti bentuk kepala ular kobra), lalu hidung pesawat mulai menurun seperti halnya daun jatuh, sambil berputar kembali ke posisi semula. Manuver ini tidak dapat dilakukan oleh satupun pesawat tempur lain di dunia. Sukhoi juga mampu melakukan akselerasi dan berhenti seketika sambil mengangkat seluruh permukaan badan pesawat menghadap belakang. Dari posisi tersebut, pesawat Sukhoi dapat melanjutkan penerbangan mereka dengan kecepatan minimum. Bila hal itu dilakukan oleh pesawat tempur lain, kemungkinan mereka akan jatuh.

Kemampuan taktis tersebut digunakan oleh pilot-pilot asal India saat melakukan latihan bersama dengan AU AS serta negara-negara lain. Di salah satu latihan tersebut, pilot India dapat mengalahkan pilot AS  yang mengendarai F-15C/D Eagle. Setelah pelaksanaan latihan bersama itu, Jendral AS Hal Homburg yang merupakan Kepala Komando Pertahanan Udara Angkatan Udara AS, dipaksa untuk mengakui bahwa hasil latihan tersebut menjadi kejutan besar bagi para pilot Amerika. “Kami ternyata bukan yang paling unggul di seluruh dunia. Pesawat tempur Su-30 MKI lebih baik dibanding F-15C. Angkatan udara negara yang memiliki pesawat tersebut tentu lebih kuat dan dapat menjadi ancaman bagi keadidayaan Amerika di udara pada masa yang akan datang,” ujar Homburg.

Kemampuan super manuver Su-35 didapat dari mesin pesawat 117S. Mesin tersebut dikembangkan dari pendahulunya, yakni mesin tipe AL-31F yang dipasang pada pesawat Su-27. Namun mesin 117S memiliki kekuatan dorong yang lebih besar, yakni 14,5 ton, sementara pendahulunya hanya memiliki kekuatan dorong 12,5 ton. Mesin ini juga memiliki keunggulan berupa sumber energi yang lebih besar dan penurunan pemakaian bahan bakar. Hal tersebut membuat mesin ini tidak hanya mampu memberikan kecepatan yang tinggi dan super manuver, tetapi juga kemampuan untuk membawa persenjataan lebih banyak. Mesin tersebut akan dipasang pada pesawat tempur seri pertama T-50 nantinya.

Pilot uji coba Biro Konstruksi Sukhoi Sergey Bogdan mengatakan, pada saat penerbangan pertama Su-35, mereka ditemani oleh pesawat Su-30MK. Ini membuat mereka dapat membandingkan kemampuan mesin masing-masing pesawat. Pada saat penerbangan tersebut, Su-35 melakukan percepatan maksimum dalam moda tanpa pembakaran lanjut, sedangkan Su-30MK harus mengejarnya dengan menggunakan moda pembakaran lanjut karena beberapa kali tertinggal dari Su-35. "Ini merupakan keunggulan tersendiri bagi Su-35 yang dapat memberi keuntungan dan kemampuan lebih besar saat melakukan pertempuran di udara," tutur Bogdan.

Dibanding Su-27, kabin pesawat Su-35 tidak memiliki komponen analog dengan jarum penunjuk. Penunjuk analog tersebut digantikan oleh kristal cair berwarna. Petunjuk itu sama seperti televisi dalam mode Picture in Picture, yakni terdapat layar-layar yang menunjukkan semua informasi yang dibutuhkan oleh para pilot. Semua komponen hidrodinamika pengendali mesin penghasil tenaga digantikan dengan komponen elektronik. Para perancang pesawat mengatakan bahwa hal tersebut tidak hanya menghemat tempat dan beban pesawat, tetapi juga dapat membuat mesin pesawat tersebut bisa dikendalikan menggunakan kontrol jarak jauh. Itu berarti peran pilot sudah tidak dominan, karena komputer akan menentukan dengan kecepatan berapa dan moda mesin seperti apa yang akan digunakan untuk mengejar sasaran, serta pada momen apa saja pilot diizinkan menggunakan senjata.

Adapun mode penerbangan kompleks, seperti penerbangan di ketinggian yang sangat minim dengan relief permukaan yang berbukit, dapat dilakukan oleh pesawat Su-35. Selain itu, sistem komputer juga menjaga agar pilot menggunakan senjata tanpa membahayakan pesawat itu sendiri atau agar pesawat tidak lepas kendali. Su-35 juga dilengkapi dengan sistem radar Active Electronically Scanned Array muktahir milik T-50. Sistem radar serupa hanya dimiliki oleh pesawat F-22, dan kemungkinan juga akan dimiliki oleh Rafale. Berkat sistem radar tersebut, Su-35 dapat melihat semua hal yang ada di udara dan di darat dalam radius beberapa ratus kilometer. Su-35 dapat mengikat 30 sasaran sambil mengarahkan senjatanya pada sepuluh sasaran tersebut.

Komoditas Ekspor

Para pakar ahli yakin bahwa F-22 maupun T-50 tak akan menjadi komoditas ekspor. Harga satu unit Raptor mencapai 133,1 juta dolar AS, dan T-50 juga bukanlah pesawat murah. Adapun Su-35 yang merupakan generasi setelah “4+” ini dibanderol 30-38 juta dolar AS, yang menjadikan pesawat tersebut sebagai primadona ekspor berlabel “generasi 5-". Ini bukan hanya sebuah langkah pemasaran yang cantik, namun Su-35 memang dibuat untuk melampaui pesawat tempur generasi “4+” asal Eropa seperti Rafale dan Eurofighter 2000, serta pesawat tempur yang sudah dimodernisasi buatan Amerika yakni F-15, F-16, dan F-18. Selain itu, pesawat Su-35 juga mampu menandingi pesawat generasi kelima, seperti F-35 dan F-22A. Hal tersebut diakui oleh para pakar dunia Barat, berdasarkan data-data pemodelan komputer. Kemungkinan fakta inilah yang menarik perhatian badan militer Indonesia.

Kamis, 06 November 2014

Radar Indonesia Belum Bisa Deteksi Pesawat Super Sonic

Binjai Tech - Dalam beberapa hari terakhir, TNI AU berhasil memaksa turun tiga pesawat asing yang melintas di kawasan Udara Indonesia. Pesawat yang berhasil diamankan adalah pesawat Beechcraft, pesawat asing komersial jenis Cessna, dan pesawat jet pribadi asal Arab Saudi.

Pengamat Militer Muhajir Efendi mengapresiasi hal tersebut. Sikap TNI AU ini adalah bentuk kemajuan terhadap dari sistem radar Indonesia dan ini menunjukkan bahwa kekuatan TNI AU mumpuni terutama dalam teknologi radar.

"Yang dilakukan sudah benar karena memang melanggar teritorial dengan terbang tanpa izin, makanya TNI AU memaksa turun pesawat-pesawat asing. Tentunya, pesawat asing melintas di wilayah Udara Indonesia tidak hanya saat ini saja," kata pria yang juga Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kepada Okezone, Selasa (4/11/2014).

Sikap TNI AU, menurut pria yang pernah mengenyam pendidikan pendek tentang pertahanan negara di Pentagon, USA, itu tidak akan mengganggu hubungan diplomatik Indonesia dengan negara lain.

Muhajir menilai, Wilayah Udara Indonesia yang perlu diwaspadai tidak hanya pesawat-pesawat konvensional saja, melainkan pesawat-pesawat yang berteknologi tinggi. Radar TNI AU harus diperbaiki untuk mendeteksi pesawat super sonic dan pesawat siluman yang melintas di wilayah Udara Indonesia.

"Kemungkinan besar ada yang melintas. Dugaan saya, kita bukannya jarang memperhatikan wilayah Udara tapi karena teknologi radar Indonesia kurang mumpuni. Ke depan harus ada perbaikan," ujarnya.

Sebelumnya, tiga pesawat dipaksa mendarat oleh TNI AU, yaitu pesawat Beechcraft dan pesawat asing komersial jenis Cessna. Terakhir Pesawat jet Gulfstream HZ-103 asal Arab Saudi juga dipaksa turun namun sekitar pukul 22.42 Wita, diperbolehkan terbang sekira setelah membayar denda Rp60 juta dan melengkapi dokumen surat izin terbang di Indonesia.