Jumat, 14 November 2014

Rasakan Terbang di Awan dengan Pesawat Tembus Pandang

Binjai Tech - Perusahaan sedang menyusun rencana untuk mengembangkan desain mereka. Seperti yang dilansir dari Telegraph.co.uk, Jumat (14/11/2014), Center for Process Innovationyang berbasis di Inggris sedang merancang sebuah pesawat tanpa jendela yang dibungkus dengan tampilan layar fleksibel pada bagian interiornya.

Layar dengan teknologi Organic Light Emitting Diode (OLED) ini dapat menyiarkan tayangan film atau rekaman televisi, konferensi video dan presentasi, atau menampilkan pemandangan awan di sekitar pesawat. Pemandangan awan ini direkam dengan kamera yang diletakkan di luar pesawat. 

Menghilangkan jendela akan mengurangi beban pesawat, meningkatkan aerodinamik, mempercepat perjalanan, mengurangi kecepatan terkurasnya bahan bakar, menurunkan harga tiket, dan mengurangi polusi.

Investasi besar sangat diperlukan untuk kelancaran implementasi desain ini. Hal itu sangat diperhatikan sebelum para pelancong menikmati keistimewaan pesawat ini. 

Memiliki kesamaan tujuan untuk meluncurkan pesawat komersil supersonik, sebuah perusahaan berbasis di Boston, Amerika Serikat, mendukung adanya rencana ini. Tahun ini, salah satu lembaga teknologi desain di Prancis akan mencoba membungkus pesawat dengan layar sebagai interior.

Ingin merasakan sensasinya? Semoga cepat terlaksana pengembangan pesawat ini.

Malam Tak Terlupakan di Hotel Pesawat Milik KLM Ini!

Binjai Tech - Ini bukan pesawat pertama yang disulap menjadi hotel impian para penggemar penerbangan. Hotel memang tak melulu berbentuk bangunan layaknya rumah, dan itu memberi pengalaman baru bagi wisatawan.

Pesawat tersebut adalah Pesawat Bnb, sebuah "pensiunan" pesawat komersial yang sudah terbang mengelilingi dunia hampir 4.000 kali. Sebagai sarana promosi, KLM Royal Dutch Airlines dan Airbnb mengadakan kompetisi lari. Hadiah bagi tiga pemenang lomba lari itu adalah menginap semalam dalam hotel pesawat tersebut.

Memang, setelah melintasi dunia sebanyak 3.675 kali, pesawat KLM itu kini akan digunakan sebagai hotel pop-up. Penggunaan pesawat hotel itu dijadwalkan hanya berlangsung selama tiga malam, yakni mulai 28 November sampai 30 November 2014.

Selain menginap, para pemenang juga berkesempatan berjalan-jalan di dalam hotel pesawat berukuran 4.000 kaki yang kini dilengkapi satu kamar tidur utama, tujuh kamar mandi, sebuah bioskop pribadi, dua dapur penuh peralatan, serta area bermain anak. 

Memang, setelah melintasi dunia sebanyak 3.675 kali, pesawat KLM itu kini akan digunakan sebagai hotel pop-up. Penggunaan pesawat hotel itu dijadwalkan hanya berlangsung selama tiga malam, yakni mulai 28 November sampai 30 November 2014. 

Di dalam hotel pesawat berukuran 4.000 kaki ini dilengkapi satu kamar tidur utama, tujuh kamar mandi, sebuah bioskop pribadi, dua dapur penuh peralatan, serta area bermain anak.

Orang-orang dengan fobia terbang dipersilakan datang. Pasalnya, waktu selama tiga malam tersebut akan menjadi malam-malam santai yang dihabiskan di atas tanah, bukan terbang di udara. 

Saat ini hotel pesawat itu berada di Bandara Internasional Schiphol, pusat lalu lintas udara Amsterdam, Belanda. KLM, selaku maskapai pemilik hotel pesawat itu, menjanjikan malam tak terlupakan bagi para tamunya. Maskapai tersebut juga akan membuat mereka merasakan pengalaman tidur dalam pesawat yang paling menyenangkan sepanjang sejarah.

"Airbnb mencoba menawarkan pengalaman wisata unik, dan pesawat KLM sangat cocok dan sempurna untuk hal itu," kata Even Heggernes, manajer Airbnb Belanda.

Di dalam hotel pesawat berukuran 4.000 kaki ini dilengkapi satu kamar tidur utama, tujuh kamar mandi, sebuah bioskop pribadi, dua dapur penuh peralatan, serta area bermain anak

Rekam jejak pesawat KLM yang bagus dan telah berkeliling dunia hampir 4.000 kali membuat Airbnb yakin akan inovasi hotel pesawat ini. Karena itulah, siapapun akan merasakan pengalaman tak terlupakan berada dalam hotel ini.

"Ini akan menjadi kesempatan sekali dalam seumur hidup untuk setiap penggemar pesawat," ujar Even.

Inilah Pesawat-pesawat Kenegaraan di KTT G-20 di Brisbane

Binjai Tech - Akhir pekan nanti, KTT G-20 akan digelar di Brisbane, Australia. Sebelum membicarakan isu-isu yang akan dibahas para kepala negara G-20, ada baiknya menyorot pesawat-pesawat kenegaraan yang membawa para kepala negara itu ke Australia.

Berikut ini beberapa foto pesawat-pesawat kenegaraan yang digunakan para kepala negara G-20. Pesawat siapakah yang paling hebat?

1. Air Force One

Pesawat terbang kepresidenan AS yang dikenal dengan nama Air Force One mungkin adalah yang paling terkenal. Air Force One sebenarnya terdiri atas dua pesawat dengan nama sandi yang sama. Pesawat ini adalah sebuah Boeing 747-200B yang dirancang khusus dengan harga pembuatan 325 juta dollar AS atau hampir Rp 4 triliun untuk tiap pesawatnya. Pesawat ini mampu terbang mengitari sepertiga dunia tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.

Air Force One dengan disain khusus bisa mengitari sepertiga dunia tanpa harus mengisi ulang bahan bakar.

2. Pesawat Kepresidenan Rusia

Pemerintah Rusia mengirim dua pesawat terbang khusus untuk mengantar Presiden Vladimir Putin menghadiri KTT G-20 di Brisbane, Australia. Satu pesawat khusus mengangkut mobil kenegaraan Putin, sementara satu pesawat lainnya mengangkut sang Presiden dan rombongannya.

Ini adalah pesawat buatan Rusia Ilyushin Il-76 yang digunakan untuk mengangkut mobil Presiden Vladimir Putin ke Brisbane, Australia. Pesawat ini banyak digunakan di berbagai negara dunia sebagai pesawat angkut kelas berat namun sayangnya kerap mengalami kecelakaan. Insiden terakhir terjadi di Kongo pada 2012 menewaskan 32 awak dan 26 orang di darat.

Presiden Rusia Vladimir Putin dan rombongannya menggunakan pesawat Ilyushin Il-96 yang lebih modern dan lebih nyaman.

3. Pesawat Kepresidenan Perancis

ETEC mengoperasikan beberapa jenis pesawat terbang untuk transportasi orang nomor satu Perancis itu, yaitu Dassault Falcon 50, Dassault Falcon 900, Dassault Falcon 7X, dan Airbus. Tak ketinggalan dua unit helikopter Super Puma. Dalam perjalanan ke KTT G-20 di Brisbane, Australia, Presiden Francois Hollande menggunakan Airbus A340.

Presiden Perancis Francois Hollande nampaknya tak ingin terlihat melakukan perjalanan kerja dengan pesawat buatan Amerika. Sehingga dia memilih menggunakan pesawat Airbus A340, buatan Perancis.

4. Pesawat Kepresidenan Indonesia

Presiden Indonesia dulu harus menyewa pesawat milik maskapai Garuda Indonesia untuk melakukan perjalanan kerja ke luar dan di dalam negeri.

Sebenarnya, AU Indonesia memiliki skuadron khusus pesawat kepresidenan. Skuadron 17 mengoperasikan Avro RJ85, Boeing 737-200, Boeing &37-400, Fokker F27-400, Fokker F28-1000, dan Lockheed C-130 Hercules.

Pada 2010, Pemerintah Indonesia menganggarkan 200 juta dollar AS untuk membeli pesawat khusus kepresidenan. Pada Februari 2012, pemerintah memesan varian BBJ2 Boeing 737-800. Pada 10 April 2014, pesawat kepresidenan itu tiba di Indonesia.

Presiden Joko Widodo menuruni tangga pesawat kepresidenan saat tiba di Brisbane, Australia untuk menghadiri KTT G-20.

5. Pesawat Kepresidenan Australia

Pesawat resmi yang digunakan PM Australia Tony Abbott adalah dua pesawat Boeing 737-700 yang dioperasikan Angkatan Udara Australia (RAAF). Pesawat jenis ini adalah yang paling banyak digunakan di dunia, tetapi ukurannya sedikit lebih kecil dibandingkan pesawat-pesawat kenegaraan lainnya.

Pesawat resmi yang digunakan PM Australia Tony Abbott adalah dua pesawat Boeing 737-700 yang dioperasikan Angkatan Udara Australia (RAAF). Pesawat jenis ini adalah yang paling banyak digunakan di dunia namun ukurannya sedikit lebih kecil dibandingkan pesawat-pesawat kenegaraan lainnya.

Kamis, 13 November 2014

NASA Uji Coba Desain Sayap Pesawat Baru

Binjai Tech - Para ilmuwan NASA tengah menguji permukaan sayap pesawat baru yang bertujuan untuk membuat pesawat yang lebih tenang dan secara signifikan meningkatkan efisiensi bahan bakar.

Hal tersebut diharapkan akan menjadi desain revolusioner baru bagi teknologi sayap pesawat terbang. Permukaan sayap ini menggantikan bagian bergerak dengan rangkaian berubah-bentuk.

Secara manufaktur, desain yang diberi nama Adaptive Compliant Trailing Edge (ACTE) ini, jelas lebih rumit daripada desain konvensional yang ditemukan pada sayap pesawat modern.

Namun, kemungkinan manfaatnya lebih besar ketimbang masalah yang harus dihadapi. Sayap berubah bentuk ini menjanjikan peningkatan aerodinamika yang akan berujung pada efisiensi bahan bakar.

Sayap ini juga memiliki bobot lebih ringan dan mampu memberikan ruang bagi tangki bahan bakar yang lebih besar.

Karena dapat berubah-ubah bentuk, sayap pesawat ini dapat melengkung dengan sempurna berbaur dengan struktur pesawat. Sayap model ini secara signifikan juga dapat mengurangi suara berisik ketika pesawat mendarat dan lepas landas.

Setelah disempurnakan nantinya, teknologi sayap baru ini bahkan didesain sehingga bisa dipasangkan pada pesawat yang sudah ada, bukannya hanya pada pesawat baru.

Teknologi ini sedang diuji melalui modifikasi pesawat Gulfstream III di Flight Armstrong Research Center NASA di Edwards, California, AS.

Begini Asal Muasal Ada Kabin Mewah di Pesawat

Binjai Tech - Ketika Anda terbang hari ini dengan pesawat, pasti sudah tahu adanya kelas ekonomi, bisnis dan kelas satu. Tapi tahukah Anda, sejak kapan ada kabin yang lebih mewah di pesawat? Rupanya dulu tidak begitu.

Dari berbagai sumber, Kamis (13/11/2014) rupanya hal itu dimulai dari sejak akhir tahun 1970-an. Beragam maskapai penerbangan berlomba untuk menarik para calon penumpang untuk menggunakan jasa mereka.

Semula hanya ada dua kelas dalam pesawat, yaitu ekonomi dan First Class. Tercatat, maskapai penerbangan yang pertama kali menginisiasi pembagian tiga kelas ini adalah Maskapai Pan Am di tahun 1978. Walaupun ada banyak perdebatan karena maskapai Qantas juga mengklaim hal yang sama pada tahun 1979.

Beberapa tahun sebelum itu, tepatnya pada tahun 1976, maskapai KLM dari Belanda mengenalkan full fare facilities (FFF) untuk penumpang kelas ekonomi, sehingga mereka bisa duduk di barisan depan kabin kelas ekonomi, atau persis di belakang kelas utama (First Class). Langkah itu kemudian diikuti oleh maskapai lain seperti Air Canada, United Airlines dan Trans World Airlines.

Namun kemudian kebijakan tersebut ditentang oleh para konsumen dari kelas ekonomi dan mendapat sentimen negatif. Alasannya karena mereka merasa diperlakukan tidak adil dan para awak pesawat menjadi kurang ramah kepada mereka.

Akhirnya pada Juli 1978, maskapai Pan Am meluncurkan Clipper Class, sebagai cikal bakal munculnya kelas bisnis yang tarifnya berbeda dengan kelas ekonomi dan First Class. Maskapai Pan Am kemudian merubah nama kelas tersebut menjadi Business Class dan meluncurkannya ke publik pada November 1978, berbarengan dengan maskapai Air France.

Maskapai Qantas sendiri menyusul pada Maret 1979 dengan meluncurkan Kelas Bisnis dan mengklaimnya sebagai kelas bisnis pertama di dunia. Tidak ada yang salah dengan klaim maskapai Qantas, namun semenjak saat itu, kebijakan pembagian tiga kelas penerbangan ini diikuti oleh hampir semua maskapai besar di seluruh dunia.

Kini, setelah muncul kelas Bisnis, para calon penumpang menjadi semakin banyak pilihan. Bagi Anda yang belum mampu untuk membayar tiket First Class namun mengincar kenyamanan lebih dibandingkan kelas ekonomi, Anda bisa memilih terbang dengan kelas Bisnis.

Malahan dalam kondiri terbaru, lahir kelas keempat yaitu Premium Economy, yaitu kelas ekonomi plus-plus. Kelas ini adalah kelas ekonomi yang lebih lega atau posisi tempat duduknya spesial. Namun berkaca dari pengalaman masa lalu, kini tidak ada perbedaan pelayanan dengan kelas ekonomi biasa, hanya memang tempat duduknya saja yang lebih nyaman.

Kapan Waktu Tepat Bagi Ibu Hamil untuk Naik Pesawat

Binjai Tech - Ibu hamil wajib memperhatikan kandungannya jika ingin melakukan perjalanan dengan pesawat terbang. Pasalnya, keadaan di udara dapat memengaruhi kesehatan ibu dan janinnya. Hal yang dikhawatirkan adalah terjadinya keguguran selama menempuh perjalanan. Oleh sebab itu, perlu bagi ibu hamil untuk memperhatikan usia kehamilan dan kondisi terkini dari kesehatan fisik maupun janinnya.

Banyak masalah kesehatan yang dapat mengganggu ibu hamil selama melakukan perjalanan dengan pesawat. Paling ringan adalah kram dan pembengkakan di kaki, dapat pula terjadi di mata kaki. Bisa pula ibu hamil mengalami blood clots/thrombosis, yaitu keadaan terjadinya pembengkakan yang disertai dengan rasa nyeri dan kemerahan pada bagian bawah lutut. Baik kram maupun blood clots penyebabnya yaitu peredaran yang tdak lancar.

Masa yang terbilang “aman” bagi ibu hamil untuk terbang dengan pesawat yaitu usia kehamilan 14 – 27 minggu. Di waktu ini ibu hamil biasanya sudah tidak mengalami mual dan lebih kuat tubuhya. Jika terbang lebih dini dari usia kehamilan 14 minggu dikhawatirkan masih mengalami pusing dan mual. Risiko janin gugur juga lebih tinggi di masa ini.

Sementara itu kalau sudah memasuki hamil tua di atas 36 minggu, justru tidak diperkenankan naik pesawat. Kalau mengandung anak kembar maka batas maksimal naik pesawat adalah 32 minggu.

Ada baiknya bagi ibu hamil yang ingin berpergian dengan pesawat melakukan konsultasi dahulu dengan dokter kandungan. Ibu hamil yang memiliki riwayat kesehatan berupa pendarahan, diabetes, mual berlebihan, pernah keguguran, melahirkan prematur, dan hipertensi sebaiknya mendapatkan perhatian lebih sebelum naik pesawat. Kondisi kesehatan benar-benar harus dijaga demi keselamatan ibu dan janin.

Rabu, 12 November 2014

Amerika Siapkan Pesawat Induk Mirip Film Avengers

Binjai Tech - Pesawat terbang induk atau helicarrier mirip dengan landasan pesawat di udara yang ada di fim Avengers. Dalam film tersebut, Captain America, Hulk dan Iron Man terbang dengan pesawat yang melandas dari helicarrier di atas langit.

Konsep tersebut sepertinya menarik perhatian militer Amerika. Komik besutan Marvel itu memberikan inspirasi pembuatan pesawat induk masa depan. Pesawat induk itu ditargetkan akan bisa membawa drone dan menjadi 'tempat tinggal' pesawat tanpa awak dari mana saja.

Dilansir melalui Daily Mail, Rabu 12 November 2014, badan penelitian teknologi militer Amerika di Pentagon, Darpa, mengatakan jenis operasi militer Amerika sangat bergantung pada pesawat induk yang besar, kuat dan berawak. Namun sayang, misi seperti ini cenderung membutuhkan pesawat yang mahal. Bahkan resiko besar akan menghantui awak pesawat dan pilot.

Darpa sempat membuat sistem pesawat tanpa awak yang berukuran kecil. Diperkirakan, Unmanned Aircraft System (UAS) akan bisa mengurangi resiko-resiko yang ditimbulkan dari pesawat besar itu. Namun Darpa salah perhitungan. Pesawat UAS berukuran kecil ternyata tidak bisa melaju dengan cepat, tidak bisa menempuh jarak jauh dan daya tahan yang kurang ketimbang pesawat besar.

Solusi satu-satunya, menurut Darpa, adalah menciptakan platform pesawat terbang mirip film Avengers. Pesawat induk ini bisa terbang ke mana saja dan dapat diandalkan untuk membawa drone dalam jumlah banyak, dan mengoperasikannya kapan saja.

"Kami harap bisa menemukan cara untuk bisa membuat pesawat kecil lebih efektif. Satu-satunya ide yang menjanjikan adalah menggunakan pesawat induk besar, dengan modifikasi minimal, untuk membawa pesawat lainnya di udara," ujar Project Manager Darpa, Dan Patt.

Projek itu disebut Distributed Airborne Capabilities (DAC). Dasar pembuatannya, mirip dengan gabungan pesawat pengebom B-52 Stratofortress atau B-1B Lancer, dengan pesawat kargo Hercules C-130.

"Kami berinovasi untuk membuat konsep desain UAS baru yang bisa berfungsi sebagai pesawat muatan, yang bisa memuat dan membawa banyak drone," Patt.

Selain DAC, militer udara Amerika juga sedang mengembangkan drone tanpa awak yang bisa terbang secara bergerombol mirip serangga, bisa merangkat seperti laba-laba, bahkan berjalan secara sembunyi-sembunyi.

Tahun lalu, badan peneliti militer udara Amerika, Air Vehicles Directorate, merilis sebuah video animasi yang menunjukkan kemampuan masa depan dari Micro Air Vehicles (MAV). Perangkat ini digadang-gadang mampu meningkatkan performa persenjataan perang Amerika di masa depan.